Moving Average

Moving Average atau yang lebih dikenal dengan MA merupakan indikator yang paling sering digunakan dan paling standar. Meskipun sangat sederhana, tetapi Moving average sendiri memiliki aplikasi yang sangat luas. Dikatakan sederhana karena pada dasarnya metode ini hanyalah pengembangan dari metode rata-rata yang biasa kita kenal. Misalnya; kita memiliki nilai 2,3,4,5,6 maka rata-rata dari nilai-nilai tersebut adalah (2+3+4+5+6)/5= 4. Sebagaimana namanya Moving Average adalah indicator yang menghitung rata-rata bergerak dari sebuah data. Mengapa dikatakan menghitung rata-rata bergerak? karena MA ini menghitung nilai dari setiap data yang bergerak berubah. Jadi MA ini akan selalu menghitung setiap data atau nilai yang baru terbentuk.

Dalam kancah trading forex, secara umum Moving average dikenal dengan tiga varian yang berbeda yaitu Simple Moving Average, Weighted Moving Average dan Exponential Moving Average. Masing-masing varian tersebut sesungguhnya adalah sama-sama menghitung rata-rata bergerak tetapi dengan metode yang berbeda dalam penghitunganya.

A. Simple Moving Average (SMA)

Simple Moving Average atau yang sering disingkat SMA adalah varian paling sederhana dari indicator Moving Average. Dikatakan paling sederhana karena SMA ini menggunakan metode paling simple dalam menghitung rata-rata data bergerak. Sebagai contoh: Jika kita mempunyai data 2, 3, 4, 5, 6, 7, 9 dan 10. Dan kemudian kita akan mencari nilai rata-rata dari data tersebut maka kita jumlahkan semua data tersebut dan kemudian hasilnya kita bagi dengan banyaknya data pembagi; agar lebih mudah mari kita terapkan penghitunganya.

Data: 2, 3, 4, 5, 6, 7, 9,10

Bilangan pembagi : 8

Rata-rata= jumlah data dibagi bilangan pembagi

(2+3+4+5+6+7+8+9+10)/8

Maka nilai rata-ratanya adalah 44/8 =5,5

2. Exponential Moving Average (XMA)

Exponential Moving Average atau yang sering disingkat XMA merupakan penyempurnaan dari metode SMA. Dikatakan sebagai penyempurnaan karena XMA menghitung rata-rata bergerak dengan pembobotan yang berbeda pada masing-masing data yang telah terbentuk pada blok data. Pada XMA terjadi sebaliknya yaitu semakin panjangperiode yang kita pakai maka semakin kecil pembobotan nilai terakhir yang kita pakai.

Secara matematis XMA kita tuliskan dalam bentuk sebagai berikut:

alt


Ok, mari kita lihat contoh perhitungannya. Dibawah ini adalah perhitungan XMA 6 periode:

No

Data

Previous XMA

XMA

1

25

2

24

3

28

4

24

5

26

6

27

25,666667

26,047619

7

29

26,047619

26,891155

8

30

26,891155

27,779396

9

31

27,779396

28,699567

10

30

28,699567

29,071119

11

29

29,071119

29,050799

12

31

29,050799

29,607713


Beberapa dari Anda yang memperhatikan data-data yang membosankan ini pastilah bertanya-tanya dari mana nilai previous XMA pada data nomor 6 karena bukankah kita belum sama sekali memiliki nilai XMA pada bagian sebelumnya? Jawabannya, nilai previous XMA tersebut adalah nilai SMA. Jadi, nilai XMA untuk data pertama adalah sama persis dengan nilai SMA. Dalam contoh diatas besarnya adalah 25,666667. Diperoleh dari (25+24+28+24+26+27)/6 = 25,666667. Sama persis dengan cara menghitung SMA bukan? (ayo lihat kembali pada bab sebelumnya!!).

XMA pada nomor 6 diperoleh dari rumus diatas yaitu :

alt


Perhitungan terus dilakukan seperti cara diatas untuk memperoleh nilai XMA berikutnya. Tapi sudahlah, Anda tidak perlu melakukan perhitungan seperti saya karena semuanya sudah tersedia secara otomatis pada masa sekarang. Namun jika Anda tertarik untuk melakukan cross check dengan apa yang saya berikan, silakan saja. Tidak ada yang menghalangi Anda.

3. Weighted Moving Average (WMA)

Weighted Moving Average atau yang lebih dikenal dengan WMA adalah salah satu varian MA yang menghitung rata-rata data bergerak dengan pembobotan pada beberapa data terakhir yang terbentuk. Pada SMA, bobot setiap data yang telah terbentuk pada beberapa periode sebelumnya atau yang baru saja terbentuk memiliki bobot penilaian yang sama. Sementara pada WMA pada masing-masing data yang telah terbentuk memiliki pembobotan yang berbeda. Data yang baru saja terbentuk pada blok data memiliki pembobotan yang lebih ketimbang data yang telah terbentuk pada blok data sebelumnya.

Pembobotan nilai pada WMA akan tergantung pada panjang periode yang kita tetapkan. Semakin panjang periode yang ditetapkan, maka semakin besar pula pembobotan yang diberikan pada data terbaru. Perhatikan tabel sederhana dibawah:

No

Data

Bobot WMA
untuk 2 periode

Bobot WMA
untuk 5 periode

Bobot WMA
untuk 7 periode

1

20

2

25

3

28

1

4

23

2

5

24

1

3

6

22

2

4

7

21

3

5

8

20

1

4

6

9

19

2

5

7



Nah, dari sini terlihat pada WMA dengan 2 periode, maka dua data terakhirlah yanga akan dihitung. Semakin besar periode maka data terakhir akan semakin besar bobot penilaiannya.

Dalam bentuk matematis, WMA dirumuskan sebagai berikut:

http://belajarforex.com/images/stories/weight/weight1.gifhttp://belajarforex.com/images/stories/weight/weight1.gif


Sebagai contoh, mari kita hitung WMA untuk 8 periode:

No

Data

Bobot

Data x Bobot

WMA untuk 8 periode

1

25

1

25

2

26

2

52

3

23

3

69

4

27

4

108

5

29

5

145

6

23

6

138

7

21

7

147

8

20

8

160

= 844/36 = 23,44

36

844

Dalam Chart forex, penggunaan MA ini adalah untuk menghitung rata-rata bergerak dari blok data atau yang lebih dikenal dengan istilah candle. Aplikasi MA memiliki beberapa metode dengan penghitungan yang berbeda:

Open: menghitung rata-rata nilai open dari blok data

Jika kita menerapkan MA dengan apply Open maka MA ini hanya menghitung rata-rata dari setiap nilai open yang terbentuk dari masing-masing blok data pada chart

Close: menghitung rata-rata nilai close dari blok data

Jika kita menerapkan MA dengan apply Close maka MA ini hanya menghitung rata-rata dari setiap nilai Close yang terbentuk dari masing-masing blok data pada chart

High: menghitung rata-rata nilai High dari blok data

Jika kita menerapkan MA dengan apply High maka MA ini hanya menghitung rata-rata dari setiap nilai High yang terbentuk dari masing-masing blok data pada chart

Low: menghitung rata-rata nilai Low dari blok data

Jika kita menerapkan MA dengan apply Low maka MA ini hanya menghitung rata-rata dari setiap nilai Low yang terbentuk dari masing-masing blok data pada chart

Median Price (HL/2): menghitung rata-rata nilai median dari blok data

Jika kita menerapkan MA dengan apply Tengah maka MA ini hanya menghitung rata-rata dari setiap nilai Tengah yaitu (nilai High+Low)/3 yang terbentuk dari masing-masing blok data pada chart

Typical Price (HLC/3): menghitung rata-rata nilai karakter dari blok data

Jika kita menerapkan MA dengan apply Typical Price maka MA ini hanya menghitung rata-rata dari setiap nilai Typical Price yaitu (nilai High+Low+Close)/3 yang terbentuk dari masing-masing blok data pada chart

Weighted Close (HLCC/4): menghitung rata-rata nilai karakter dari blok data

Jika kita menerapkan MA dengan apply Weighted Close maka MA ini hanya menghitung rata-rata dari setiap nilai Weighted Close yaitu (nilai High+Low+Close+Close)/4 yang terbentuk dari masing-masing blok data pada chart

MACD BS Daily




Exponential Moving Average

Exponential Moving Average (XMA)

XMA merupakan penyempurnaan dari metode SMA. Seperti kita ketahui bahwa pembobotan SMA merupakan penyebab yang mengakibatkan terjadinya keterlambatan sinyal perubahan trend. Pemberian bobot pada XMA sama seperti juga pada WMA, melibatkan periode. Hanya saja perbedaannya jika pada WMA semakin panjang periode yang kita gunakan maka semakin besar bobot nilai terakhirnya, maka pada XMA terjadi sebaliknya yaitu semakin panjang periode yang kita pakai maka semakin kecil pembobotan nilai terakhir yang kita pakai. Secara keseluruhan, peraturan pada XMA adalah sama seperti pada SMA karena memang cara perhitungannya sama hanya memiliki perbedaan pada pembobotan nilai saja. Berikut contoh penggunaan XMA dengan dua periode yang berbeda. Cara membacanya sama persis dengan SMA

Weighted Moving Average

Weighted Moving Average (WMA)

WMA ini bisa dibilang berbeda tapi sama dengan SMA. Berbeda sehingga diberi nama lain, Weighted Moving Average. Sama karena metodologi yang digunakan sama, hanya caranya yang berbeda. Biar lebih mudah memahami perbedaanya, kita buat perumpamaan. Andaikan anda mau membeli notebook, harga mana yang anda buat patokan? Harga 2 minggu yang lalu apakah harga dua hari yang lalu? Saya rasa pasti anda memilih harga dua hari yang lalu, karena menurut hemat kita pastilah pergerakan harganya tidak akan jauh berbeda. Bobot penilaian inilah yang diatur oleh WMA. Pada SMA, bobot setiap harga baik dua minggu lalu atau pun dua hari yang lalu memiliki bobot penilaian yang sama. Pada WMA data terakhir memiliki bobot yang lebih besar nilainya dibandingkan harga-harga sebelumnya. Pembobotan nilai pada WMA akan tergantung pada panjang periode yang kita tetapkan. Semakin panjang periode yang ditetapkan, maka semakin besar pula pembobotan yang diberikan pada data terbaru. Secara keseluruhan, peraturan pada WMA adalah sama seperti pada SMA karena memang cara perhitungannya sama hanya memiliki perbedaan pada pembobotan nilai saja. Dibawah ini penggunaan WMA dengan dua periode yang berlainan. Cara membacanya sama dengan SMA

Simpel Moving Average

Simpel Moving Average (SMA)

Simple Moving Average atau juga disingkat SMA adalah Moving Average paling sederhana dan tidak menggunakan pembobotannya dalam perhitungan terhadap pergerakan closing price. Meskipun sederhana, SMA cukup efektif dalam menentukan trend yang sedang terjadi di market. Cara pembacaannya pun sederhana. Secara garis besar MA dapat digunakan untuk hal-hal berikut:
1. Menentukan trend yang akan terjadi.
2. Menentukan titik support dan resistance.
3. Memuluskan indikator lain yang terlalu bergerigi.

Aplikasi MA paling banyak digunakan untuk memprediksi arah trend sedangkan kegunaan no 2 dan 3 tidak terlalu banyak digunakan. Berikut contoh MA dengan periode 10 yang diterapkan pada GBP/USD periode 1 hari :



Perhatikan bagian yang telah diraster dengan warna biru. Ketika harga bergerak naik, MA berada dibawah dari pergerakan mata uang. Sebaliknya bila MA berpotongan dengan candlestick, trend naik berhenti dan dilanjutkan dengan situasi sideways. Atau ketika trend naik terjadi lalu kemudian MA menembus harga dan berpindah dari bawah menuju keatas, itu merupakan pertanda bahwa trend naik telah berakhir untuk kemudian dilanjutkan dengan trend turun.

Kita juga bisa menggunakan dua buah SMA dengan dua periode yang berbeda. Hasilnya akan sangat menarik.



Dengan penggunaan dua SMA dengan dua periode yang berbeda kita dapat lebih akurat lagi memprediksikan kemana harga akan bergerak. Apabila telah terjadi perpotongan antara harga dengan kedua SMA maka akan dipastikan harga kan berubah arahnya. Pada gambar diatas, apabila MA dengan periode yang lebih kecil-yaitu periode 10 jika di gambar-berada /dibawah/ dari MA yang periodenya lebih besar-pada gambar diwakili dengan periode 15-maka itu merupakan indikasi harga sedang dalam trend turun dan sebaliknya apabila periode lebih kecil /di atas/ dari periode yang lebih besar maka trend mata uang sedang dalam tren naik. Dapat kita catat juga bahwa apabila rentang antara kedua SMA semakin besar maka kemungkinan trend akan terus berlangsung dan bila mulai terjadi penyempitan jarak diantara keduanya dan sampai terjadi perpotongan kembali, bisa disimpulkan bahwa trend sudah berakhir. Mudah bukan? Mengenai periode MA yang digunakan, sayangnya sampai saat ini belum ada aturan pencarian periode yang tepat untuk dipakai. Memang perlu banyak-banyak berlatih dan mencoba (/trial and error/). Perlu Anda catat bahwa penggunaan periode dapat berubah-ubah menurut kebutuhan meskipun pada pair yang sama karena memang kondisi sebuah mata uang adalah dinamis dari waktu kewaktu. Namun berdasarkan pengalaman, disarankan periode yang digunakan tidak lebih besar dari 40. Ini dimaksudkan agar MA tidak kehilangan sensitivitasnya sebagai indikator penentu trend. Semakin besar periode dari MA maka kurva MA yang dihasilkan akan semakin lebar dan tidak sensitif dalam mengakomodasi perubahan harga. Sebaliknya, semakin kecil periode MA maka kurva MA yang dihasilkan menjadi semakin semakin sensitif. Dalam hal ini terlalu sensitif atau tidak sensitif sama sekali bukanlah hal yang baik. Semakin sensitif sebuah kurva MA maka semakin sering sinyal palsu dihasilkan dan membuat trading kita loss. Sebaliknya, semakin tidak sensitif maka sinyal beli atau jual menjadi semakin sedikit yang mengakibatkan kita tidak dapat bertrading.

KG Fibonanci MA






KG MA 1.3 D

KG MA adalah indikator MA yang disusun oleh KG berdasarkan acuan waktu. Masing-masing garis MA tersebut (seperti halnya MA) menunjukan nilai rata-rata price dalam acuan waktunya. Dalam in dikator KG MA 1.3D ini, acuan waktu yang digunakan adalah 15 menit, 30 menit, 1 jam, 4 jam, 8 jam, daily, weekly, Monthly. Berbeda dengan MA yang kita setting secara manual, Indikator MA ini bersifat multi tife frame dengan perhitungan periode waktu yang sama, sehingga bisa digunakan di TF berapapun dan secara otomatis nilai yang ditunjukanyapun sama tanpa kita harus merubah setting periodenya.


Gambar di bawah ini adalah contoh KG MA 1.3D


kg ma 1 3 d






KG MA

KG MA ini tidaklah jauh berbeda dengan KG MA 1.3, hanya saja periode yang digunakan hanya daily hingga monthly. Dan juga ditambah arsiran untuh mempermudah kita membedakan keberadaan posisi harga





Overbought dan Oversold pada MACD

Selain untuk mendeteksi perubahan Trend, Kita juga dapat menggunakan MACD sebagai indikator overbought dan oversold. Situasi overbought atau jenuh beli merupakan indikasi bahwa pasar telah mengalami kejenuhan dalam membeli mata uang yang bersangkutan. Jika ini terjadi maka diramalkan akan terjadi penurunan harga dalam beberapa saat kemudian. Begitu juga dengan oversold yang artinya kira-kira jenuh jual. Jika terjadi oversold maka diramalkan akan terjadi penguatan harga menuju titik resistance-nya. Perhatikan gambar dibawah:

Silahkan KLIK DI SINI Untuk Membaca Seluruhnya

MACD untuk Perubahan Trend

Ini adalah kegunaan khas dari MA yang digunakan MACD sebagai MACD line dan triger line. Cara membaca peralihan trend dari Bullish menuju Bearish dan sebaliknya sama dengan cara kita membaca peralihan trend pada MA. Garis digunakan untuk membacanya adalah MACd line dan triger line. Perhatikan lagi gambar dibawah ini:

Silahkan KLIK DI SINI untuk Membaca Selengkapnya

KG MA

MA adalah indikator yang mungkin bisa dikatakan paling familiar bagi umumnya trader forex, baik berbasis meta trader maupun streamer. Bahkan mungkin inilah indikator yang paling simple dan mudah dipahami penggunaanya. Sebagaimana namanya MA adalah indikator yang yang menghitung rata-rata price berdasarkan periode tertentu. Lebih detail silahkan baca di sini. Artinya, kelengkungan dan kecenderungan MA adalah menggambarkan posisi rata price sesuai dengan periode yang di pasangkan pada MA. Itulah mengapa MA dengan periode 4 misalnya, akan berbeda arah ketika di terapkan pada TF yang berbeda, sehingga banyak trader yang menggunakan MA periode tertentu hanya pada tertentu saja. Kelirukah ini? menurut saya tidak & sah-sah saja. Tetapi MA yang akan saya bagikan adalah MA yang telah diset pada periode berdasarkan acuan waktu pada umumnya (15 menitan, 30 menitan, 1 jam-an, 4 jam-an, 8 jam-an, harian, mingguan, nulanan), bukan berdasarkan periode TF. Sehingga MA ini akan sama fungsinya ketika di TF berapapun.

TF 15M



TF 1H


Jika berminat silahkan klik link berikut untuk mengunduh
Image and video hosting by TinyPic

Moving Average

Di dalam analisa teknikal kita mengenal beberapa alat yang digunakan untuk memprediksi trend pergerakan harga, mengetahui support – resistance serta overbought – oversold. Alat tersebut bekerja berdasarkan data historis di masa lampau, dan kita sebut sebagai indikator. Mengenai indikator ini sudah kita singgug dibagian Analisa Teknikal.Sekarang kita akan membahas lebih dalam lagi untuk indikator, khususnya indikator moving average.

Indikator ini merupakan indikator yang paling sederhana dan merupakan dasar dari banyak indikator. Pada intinya Moving Average (MA) / Rata-rata pergerakan didapatkan dari rata-rata pergerakan yang terjadi dan membentuk sebuah garis/kurva. Dengan menggunakan indikator Moving Average (MA) kita dapat memperkirakan trend atau arah pergerakan yang akan terjadi yang berupa garis lengkung yang mulus (merupakan rata-rata pergerakan naik dan turun).

Moving average sendiri memiliki 3 varian yang berbeda, Simple Moving Average, Weighted Moving Average, dan Exponential Moving Average. Semuanya merupakan metode rata-rata bergerak, hanya saja cara merata-ratakannya berbeda satu dengan yang lainnya. Namun dalam pembacaanya tetap sama dan mengikuti aturan yang berlaku dalam Moving Average. Sebenarnya Moving Average ini memiliki lebih dari 5 varian. Tapi untuk mempersempit dan supaya tidak mudah dipahami, kita hanya akan membahas 3 varian yang sudah disebutkan tadi.

Simpel Moving Average (SMA)

Weighted Moving Average (WMA)

Exponential Moving Average (XMA)


Manakah yang lebih baik, SMA, WMA, ataukah XMA ?

Manakah diantara varian indikator MA ini yang paling baik? Dilihat dari pemberian sinyal bullish atau bearish memang XMA merupakan indikator yang dapat memberikan sinyal yang lebih dini dibanding keduanya, karena XMA memang diciptakan untuk mengeleminir kekekurangan varian MA pendahulunya. Tapi jika pertanyaannya adalah mana yang lebih baik, ini menjadi sangat relatif bergantung pada si pemakai.

Semakin sensitifnya sebuah indikator memang akan menjadi sangat membantu untuk memprediksi harga. Namun sebaliknya, semakin sensitif maka akan semakin banyak juga false signal yang dihasilkan yang artinya bisa saja sinyal yang diberikan ternyata salah atau tidak berlangsung lama. Itu sebabnya kembali bergantung pada sang trader. Jika Anda adalah seorang yang lebih menyukai permainan yang lebih safe, mungkin SMA menjadi lebih cocok dibandingkan varian lainnya. Dan sebaliknya bila Anda menyukai permainan yang lebih beresiko (yang juga berari kemungkinan memperoleh keunutungan akan sama besarnya dengan resiko yang mungkin terjadi) maka XMA akan lebih baik menurut Anda karena lebih responsif dan lebih cepat dalam pemberian sinyal. Jika Anda seorang penganut poros tengah, silakan gunakan WMA. Yang jelas indikator hanyalah sebuah instrumen, kitalah yang menentukan keputusan berdasarkan petunjuk instrumen tersebut.

Moving Average Convergence Divergence

Moving Average Convergence Divergence atau yang bisa disebut MACD adalah indikator diciptakan oleh Gerald Appel dengan mengambil formulasi seperti Moving Average atau yang biasa juga disebut dengan MA. Didalam MACD terdapat dua bagian yaitu MACD Histrogram dan tiga Line MACD lalu tiga garis MACD tersebut memiliki fungsi dan nama yang berbeda –beda yaitu Triger Line, Centre Line dan MACD Line.
Coba perhatikan gambar berikut:



Kita akan mengetahui mengapa MACD dikatakan mengambil formulasi yang sama dengan MA. Mari kita lihat asal dari garis-garis diatas (MACD line, triger line, Histogram, dan centerline):

MACD line. Secara default fromulasi MACD line adalah : XMA12 - XMA26 yaitu selisih dari XMA periode 12 dengan XMA periode 26. Oleh karena menggunakan XMA, maka sifat-sifat MACD juga akan menyerupai sifat-sifat XMA yaitu memberikan sinyal yang lebih dini dibanding MA lainnya.
Triger line. Secara default triger line adalah XMA9 yang merupakan garis pemicu.
Centerline. Garis biasa. Merupakan garis nol yaitu membatasi histogram negatif dengan histogram positif.
Histogram. Formulasi untuk histogram adalah: MACD line - Triger line. Digunakan sebagai indikasi overbought/oversold.

Bila Anda sudah cukup mahir Anda dapat bereksplorasi dengan menggunakan periode XMA yang berlainan. Mungkin terlintas dipikiran kita mengapa kita harus repot-repot menggunakan MACD yang padahal hanya pengurangan dari XMA saja. Tidak demikian kenyataannya. Melalui formulasi sederhana seperti ini ternyata MACD mampu memberikan informasi bukan hanya trend yang akan terjadi tetapi lebih dari itu. MACD dapat digunakan untuk mengetahui peralihan momentum yang dinilai kuat atau pun lemah, juga dapat dipakai untuk mengetahui kondisi overbought/oversold pada pasar yang dapat memicu peralihan trend.